Gangguang Haid / Perdarahan
Uterus Abnormal
Perdarahan haid merupakan hasil interaksi kompleks
yang melibatkan system hormone dengan organ tubuh, yaitu hiporalamus, hipofise,
ovarium dan uterus serta factor lain luar organ reproduksi. Bias dibayangkan penyebab
gangguan haid sangat banyak, dan bervariasi.
Ganggaun haid atau disebut juga
dengan perdarahan uterus abnormal merupakan keluhan yang sering menyebabkan
perempuan berobat ke dokter atau tempat pertolongan pertama. Data dibeberapa
Negara industri menyebutkan bahwa seperempat penduduk perempuan dilaporkan
pernah mengalami menoragia, 21% mengeluh siklus haid memendek, 17% mengalami
perdarahan antar haid dan 6% mengeluh perdarahan pascasenggama. Selain
menggangu kesehatan haid gangguan haid gangguan haid juga berpengruh pada
aktivitas sehari-hari yaitu 28% dilaporkan merasa terganggu saat bekerja
sehingga berdampak pada bidang ekonomi. siklus haid normal yaitu :
GANGGUAN HAID PADA MASA
REPRODUKSI
1.
Gangguan
lama dan jumlah darah haid
a. Hiperamenorea (menoragia)
Menoragia adalah perdarahan haid
dalam jumlah darah lebih banyak dan/atau durasi lebih lama dari normal dengan
silkus yang normal dan teratur. Secara klinis menoragia didefinikan dengan
total jumlah darah haid lebih dari 80ml per siklus dan durasi haid lebih lama
dari 7 hari. Bias dikatakan bahwa bila ganti pembalut 2-5 kali per hari
menunjukkan jumlah darah normal. Menoragia adalah bila ganti pembalut lebih
dari 6 kali per hari. WHO melaporkan 18 juta perempuan usia 30-35 tahun
mengalami haid yang berlebih dan jumlah tersebut 10% termasuk dalam kategori
menoragia.
Penyebaba menoragia terletak
dalam kondisi uterus. Hemostais di endometrium pada siklus haid berhubungan
erat dengan platelet dan fibrin. Formasi thrombin akan membentuk plugs dan
selanjutnya diikuti dengan vasokontriksi sehingga terjadi hemostasis. Pada
penyakit darah tertentu juga menyebabkan menoragia. Ganggguan anaromi juga aan
menyebabkan terjadinya menoragia, termasuk diantaranya adalah mioma uteri,
polip dan hyperplasia endometrium. Mioma yang terletak pada dinding uterus akan
mengganggu kontraktilitas otot Rahim, permukaan endometrium menjadi lebih luas
dan akan menyebabkan pemesaran pembuluh darah serta beresiko mengalami
nekrosis, proses patologi ini menghambat hemostasis normal.
b. Hipoamenorea
Hipoamenore adalah perdarahan
haid dengan jumlah darah lebih sedikit dan atau durasi lebih pendek dari
normal. Terdapat beberapa penyebab hipoamenorea yaitu gangguan organic misalnya
pada uterus pasca operasi moimektomi dan gangguan endokrin. Hipoamenorea
menunjukkan bahwa tebal endometrium tipis dan perlu evakuasi lebih lanjut.
2.
Gangguan
siklus haid
a. Poliamenorea
Polimenorea adalah haid dengan
siklus yang lebih pendek dari normal yaitu kurang dari 21 hari. Sering kali
sulit membedakan poliamenorea dengan metroragia yang merupakan perdarahan
antara 2 siklus haid. Penyebab poliamenorea bermacam-macam antara lain gangguan
endokrin yang menyebabkan gangguan ovulasi, fase luteal memendek dan kongesti
ovarium karena peradangan.
b. Oligomenorea
Oligomenorea haid dengan siklus lebih
panjang dari normal yaitu lebih dari 35
hari. Sering terjadi pada sindrom ovarium polikistik yang disebabkan oleh
peningkatan hormone androgen sehingga terjadi ganggaun ovulasi. Pada remaja
oligomenorea dapat terjadi karena immaturitas poros hipotalamus hipofisis
ovarium endometrium. Penyebab lain hipomenorea antara lain stress fisik dan
emosi, penyakit kronis serta gangguan nutrisi. Perhatian perlu diberikan bila
oligomnorea disertai dengan obesitas dan infertilitas karena mungkin
berhubungan sindroma metabolic.
Pada perkembangan selanjutya
mulai dipikarkan terminology keluahan gangguan haid yang mudah dipahami oleh
petugas kesehatan dan penderita. Terminology ganggaun haid tersebut memerlukan
parameter katakteristik haid normal yang ditunjukkan oleh frekuensi haid,
keteraturan siklus dalam 12 bulan, durasi haid dan volume darah haid. Haid yang
terjadi lebih besar atau lebih kecil dari persentil ke-95 dan ke-5
dikategorikan sebagai gangguan haid. Rekomendasi terminology untuk keluhan dan
tanda ganggaun haid tercantum sebagai berikut :
Parameter
haid
|
Definisi
Klinis
|
Batasan
(persentil ke5-95)
|
Frekuensi Haid
Keteratutan siklus (hari) dalam 12 bulan
Durasi Haid (hari)
Volume darah haid
|
Normal
Sering
Jarang
Normal
Tidak Teratur
Tidak Ada
Normal
Panjang
Pendek
Normal
Banyak
Sedikit
|
24-38
<24
>38
Variasi 2-20
Variasi >20
-
4-8
>8
<4
5-80
>80
<5
|
c. Amenorea
Amenorea adalah tidak terjadi
haid pada seorang perempuan dengan mencakup salah satu tanda sebagai berikut
1.
Tidak terjadi haid sampai usia 14
tahun, disertai tidak adanya pertumbuhan atau perkembangan tanda kelamin
sekunder
2.
Tidak terjadi haid sampai usia 16
tahun, disertai adanya pertumbuhan normal dan perkembangan tanda kelamin
sekunder
3.
Tidak terjadi haid selama 3 bulan
berturut-turut pada perempuan yang sebelumnya pernah haid.
Secara
klasik dikategorikan manjadi dua yaitu amonorea primer dan amenorea sekunder
yang menggambarkan terjadinya amenorea sebelum ataus esudah terjadi menarke.
1.
Gangguan
perdarahan di luar siklus haid
Menometroragia
Menometroragia
adalah pendarahan dari vagina pada seorang wanita tanpa ada hubungan dengan
suatu siklus haid. Pendarahan ovulataoir terjadi pada pertengahan silus sebagai
suatu spotting dan dapat lebih diyakinkan dengan pengukuran suhu basal
tubuh. Penyebabnya adalah kelainan organik (polip endrometrium, karsinoma
endrometrium, karsinoma serviks), kelainana fungsional, serta penggunaan
estrogen eksogen. Menometroragia dapat disebabkan oleh kelainan organik pada
alat genital atau oleh kelainan fungsional
2.
Gangguan
lain yang berhubungan dengn haid
a. Dismonorea
Dismonorea adalah nyeri saat
haid, biasanya dengan rasa kram dan terpusat di abdomen bawah. Keluhan nyeri
haid terjadi bervariasi mulai dari ringan sampai berat. Keparahan disminorea
berhubungan langsung dengan lama dan jumlah darah haid. Disminorea dapat di
bagi menjadi 2 kelompok yaitu :
1.
Dismonorea primer
Disminorea
primer adalah nyeri haid tanpa ditemukan patologi pada panggul. Disminorea
primer berhubungan dengan siklus ovulasi dan disebabkan oleh kontrasi
myometrium sehingga terjadi iskemia akibat adanya prostaglandin yang diproduksi
oleh endometrium fase sekresi.
Molekul
yang berperan pada disminorea primer adalah prostaglandin F2 yang selalu menstimulasi
kontraksi uterus, sedangkan prostaglandin E menghambat kontraksi uterus.
Terdapat peningkatan kadar prostaglandin di endomentrium saat perubahan dari
fase proliferasi ke fase sekresi. Perempuan dengan disminorea primer didapatkan
kadar prostaglandin lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan yang tidak
disminorea. Peningkatan kadar prostaglandin tertinggi pada 48 jam pertama. Hal
ini sejalan dengan awal muncul dan besarnya intensitas nyeri haid. Keluhan
mual, muntah, nyeri kepala, atau diare sering menyertai disminorea yang diduga
karena masuknya prostaglandin ke sirkulasi sistemik.
2. Disminorea sekunder
Disminorea
sekunder berhubungan dengan nyeri haid dengan berbagai keadaan yang patologis
di organ genitalia, misalnya endometriosis, adenomiosis, mioma uteri, stenosis
serviks, penyakit radang panggul, perlekatan panggul, atau irrit ibel bowel
syndrome.
Disminorea primer sering terjadi
pada usia muda/remaja seperti keluhan nyeri, kram dan lokasinya di tengah bawah
Rahim. Disminorea primer sering diikuti dengan mual, muntah, diare, nyeri
kepala dan pada pemeriksaan ginekologi tidak ditemukan kelainan. Biasanya nyeri
muncul pada hari pertama dan kedua.
Dismonorea sekunder dipikirkan
bila pada anamnesis dan pemeriksaan curiga ada patologi panggul atau kelainan
bawaan atau tidak respons, dengan obat untuk amenorea primer. Pemeriksaan
lanjutan yang dapat dilakukan misalnya, USG, infus salin sonografi atau
laparoskopi dapat dipertimbangkan adanya endometriosis.
Penanganan
1. Obat
antiinflamasi nonsteroid/NSAID
2. Pil
kontrasepsi kombinasi
b. Sindrom pra haid
Berbagai keluhan muncul sebelum
haid, yaitu cemas, lelah, susah konsentrasi, susah tidur, hilang energy, sakit
kepala, sakit perut, dan sakit payudara. Sindrom pra haid biasanya ditemukan
7-10 hari menjelang haid. Penyebab pasti belum diketahui, tetapi diduga hormone
esterogen, progesteron, prolactin, dan aldosterone berperan dalam terjadinya
sindroma pra haid. Gangguan keseimabangan esterogen dan progesterone menyebabkan
retensi cairan dan natrium sehingga berpotensi menyebebkan terjadinya keluhan
sindroma prahaid. Perempuan yang peka terhadap factor psikologis, perubahan
hormone sering mengalami gangguan prahaid.
Diagnosis
Amerikan psychiatric association
memberikan kriteria diagnosis sebagai berikut :
·
Gangguan mood
·
Cemas
·
Labil, tiba-tiba susah, takut,
marah
·
Konflik interpersonal
·
Penurunan minat terhadap
aktivitas rutin
·
Lelah
·
Susah berkonsentrasi
·
Perubahan nafsu makan
·
Insomnia
·
Perubahan control diri
·
Keluhan-keluahn fisik : nyeri
pada payudara, sendi dan kepala
Sumber Referensi :
Sarwono Prawirohardjo, cetakan ke4. 2011






0 komentar:
Posting Komentar